PARIBAN dalam adat istiadat Batak, "GEREUNG dalam adat istiadat Flores Timur
PARIBAN dalam adat Batak
& GREUNG dalam adat Flores Timur
****"********************************"
A). Pariban’ dalm adat Batak.
Mengapa masyarakat Batak kuno menganjurkan kawin pada pariban?
Untuk menjaga keutuhan garis keturunan dan mempertahankan kekuasaan kerajaan pada zaman dahulu yaitu masa kerajaan raja batak Sisingamangaraja, sehingga antara keluarga kerajaan sangat menganjurkan anak-anak mereka kawin dengan saudara dekat atau Pariban karena dianggap memiliki derajat yang sama sebagai keluarga ...
Pariban, Anak Namboru atau Anak Tulang yang Kelak Menjadi Jodoh
Jika anda orang Batak, anda pasti sudah tidak asing dengan istilah ini. Ada dua definisi pariban dari dua sudut pandang yang berbeda. Jika anda laki-laki, pariban merupakan boru dari tulang atau dalam bahasa Indonesia yang berarti anak perempuan dari kakak atau adik laki-laki ibu.
Jika anda perempuan, pariban merupakan anak dari namboru yang berarti anak laki-laki dari kakak atau adik perempuan ayah. Konteks adik atau kakak laki-laki atau perempuan dari ayah dan ibu dalam hal ini tidak selalu saudara kandung ayah dan ibu. Dalam hal ini bisa berarti orang Batak yang semarga dengan ayah atau ibu.
Bagi orang Batak, na marpariban atau sesama pariban wajib menikah. Hal ini dikarenakan na marpariban dalam adat Batak memiliki tujuan untuk mempererat tali persaudaraan antara keluarga dari kedua belah pihak. Maka dengan menjodohkan kedua na marpariban tersebut, orang Batak mengganggap ini merupakan hal yang sangat baik karena membantu menjaga hubungan pertalian darah agar dapat terjaga dengan baik.
Karena inilah, biasanya anak-anak Batak sudah diajarkan partuturan dan dikenalkan dengan paribannya, itonya atau saudaranya, tulang dan istrinya yakni nantulangnya, dan namboru dan suaminya yakni amangborunya.
Selain dianggap menjaga hubungan pertalian persaudaraan, menjodohkan na marpariban juga dianggap sebagai keuntungan dalam mencari jodoh. Hal ini disebabkan na marpariban akan mudah mendapat “lampu hijau” dari segi adat.
Adat partuturan batak atau sistem garis keturunan berdasarkan marga pada batak termasuk cukup rumit karena ada beragam marga batak yang tentunya berbeda-beda pula kategori keluarganya. Banyak kejadian pasangan batak gagal menikah karena marga. Karena berdasarkan marga mereka, mereka adalah mariboto (ito) atau saudara yang tidak boleh menikah.
Tetapi bukan berarti adat na marpariban selalu dianggap memberikan dampak positif. Muda-mudi Batak zaman sekarang mulai beranggapan bahwa na marpariban adalah sesuatu yang rumit. Mereka mulai beranggapan bahwa adat na marpariban adalah perjodohan yang mengekang.
Kemudian ketika menikah dengan pariban juga dianggap kaku karena tidak membuat persaudaraan dan hubungan keluarga meluas
Seorang anak laki-laki memanggil ‘Pariban’ kepada anak perempuan dari Tulang
(Tulang berarti paman, saudara laki-laki ibu baik kakak maupun adik dari ibu). Sebaliknya
seorang perempuan menyebut ‘Pariban’ kepada anak laki-laki dari Namboru-nya (Namboru bisa
berarti bibi / tante, saudara perempuan ayah).
mendeskripsikan sebuah relasi kekerabatan suku Batak.
Pariban berlaku bagi bagi hubungan bersepupu ini untuk saling berjodoh.
Dalam hukum adat Batak toba perjodohan ini sah secara Adat dan secara hukum.
Bagi Orang batak Pariban itu sebenarnya berlaku menjodohkan seorang anak laki-laki dan perempuan pada waktu di dalam kandungan tetapi sekarang kebanyakan orang batak sudah tidak menjodohkan anak seperti itu, melainkan ketika anak mereka sudah dewasa, para orang tua batak menjodohkan anak mereka pada keluarga mereka sendiri. Sebenarnya maksud orang batak menjodohkan anak mereka hanya untuk menjaga keutuhan harta keturunan mereka, agar harta yang mereka miliki dijaga dan terus dilestarikan.oleh garis keturunan mereka sendiri.
Lain halnya Dengan
B). GREUNG Dalam Hukum adat-
istiadat Flores Timur.
Mengapa masyarakat kuno terdahulu memperbolehkan , menganjurkan kawin antara keponakan. Yaitu anak dari saudara laki-laki nya ibu dan cucu perempuan dari garis keturunan ibu yaitu anak dari putrinya saudari Epo/Opu(paman)
Untuk menjaga keutuhan garis keturunan dan mempertahankan bibit bobot dan bebet.dan menjaga harta warisan budaya turun temurun.
Dalam Hukum Adat Flores Timur Sebagian suku adat di flores Meliputi
Sebagian daratan dan wilayah, yang paham Akan tradisi GREUNG , meliputi LARANTUKA , pulau Lembata.dan sekitarnya,
Greung ini dipandang Istimewa. Karena akan ada nostalgia sepanjang zaman.
Ketika Anak laki-laki dari ibu " memanggil "Greung atau ikan Ayamnya, yaitu melirik wanita Atau cucu Perempuan dari" OPu /Epo/OM"(berarti PAMAN).
yaitu anak perempuan dari Putra kandung Paman. MAka tanpa ada batasan mereka adalah "Milik dan pasti dimiliki".
Baik pihak ibu dan pihak paman akan sangat bahagia dan pasti setuju.walaupun tetap akan melalui prosedur hadat dan kebiasaan setempat.Dengan mengikuti standar hukum adat.
Perjodohan didasarkan pada Kejujuran dan Ketulusan memberi manfaat,Menyambut kembali dan saling menghargai sebagai pihak opu alap (Bapa pemberi berkat) bahkan melebihi orang tua kandung kuasa Epo/blake/Opu alap di ibaratkan seperti "WAINMATAN KAJO PUKEN" ( Paman adalah pemberi berkat kesejukan seperti sumber air yang menghidupkan dan memberikan kekuatan seperti Pohon kesuburan yang kuat dan koko,maka dalm tradisi flores timur, Opu/epo/Paman dipandang sebagai Bapak kehidupan bagi Anak makin dan ponakan perempuan dari saudara perempuan yang menikah disuku lain. Anak laki laki dari saudara perempuan diakui dalam tradisi adat istiadat "sapaan itu di berikan kepada mereka sebagai ANAK MAKIN,dan anak perempuan dari saudara perempuan nya sebagai "NAPENEN",Baik sebagai Anak Makin dan NAPAN keturunan dari saudari perempuan nya, kita harus hormati dan menghargai, karena KUASA Opu alap seperti Tuhan Allah kedua, Kata katanya sangat Magis, Memiliki Power, bisa mnjadi berkat bagi keponakan baik keponakan laki-laki atau keponakan perempuan ,dan juga bisa menjadi Bencana. Bagi yang tidak mengakuinya dalm bertutur kata dan perilaku.maka jalan berkat baginya akan tertutup rapat.
Perjodohan didasarkan pada Kejujuran dan Ketulusan memberi manfaat,Menyambut kembali keturunan gumpalan darah tentu saling menghargai sebagai pihak
Opu alap Paman/Epo/ pihak Blake, seperti menyambut kembali putranya ke pangkuanku pemberi hidup ,Anak Makin dari pihak Perempuan atau Nole Kwinai akan merasa sangat bahagia ,karena dipandang secara garis keturunan "akan mengembalikan GUMPALAN DARAH.mempererat tali silahturahmi, persaudaraan , dalam sebuah hubungan kekeluargaan yang sangat kuat dan Kental.
Tradisi perjodohan dari sejarah turun temurun.dan ini sah secara adat dan hukum.
Hubungan "GEREUNG" Atau IKAN AYAM".
sebenarnya menjodohkan seorang anak laki-laki dan perempuan bisa dilakukan sebelum mereka lahir ke dunia.dimana pada waktu mereka masih menjadi janin di dalam kandungan . Akan tetapi sekarang kebanyakan orang Flores sudah tidak terlalu mematok batas saat menjodohkan anak seperti itu, .
Melainkan ketika anak mereka sudah dewasa, para orang tua orang tua lores timur baru memberikan penjelasan dan pemahaman,kepada anak mereka dan menjodohkan anak mereka atas dasar "pilihan hukum adat yaitu Greung /ikan ayam berdasarkan garis besar keturunan dan pertalian darah ,pada keluarga mereka sendiri.. KARENA ITU SAH .
Lain Hal ,lain cerita lagi dengan ini, BERLAKU BAGI KEDUA GREUNG yang belum secara sah disatukan oleh kedua keluarga sebagai mempelai tentu dalm masa Mudanya yang masih bebas ber ekspresi "MEREKA MEMILIKI HAK MUTLAK" bagi keduanya untuk saling Ledek, bisa bahasa umpatan berupa bahasa makian, dan itu sah,, sebelum saling jodoh hak mutlak mereka bebas untuk buang bahasa sindiran saling meledek,atau dalam bahasa daerah disebut "HEMIONG".(BERCANDA))
Pada kenyataannya HEMIONG terselip bahasa yang terkesan menggelikan atau humor YANG kelewat batas!! Walaupun"Terdengar kasar bagi yang bukan GEREUNG , dalam pandangan tradisi,hal itu dianggap LUMRAH,maka bukan sebuah Pelanggaran perilaku, hukm adat sudah terpatri disana sejak semula dari nenek moyang terdahulu.. dibiarkan akan muncul bahasa umpatan yang bisa mengocok perut hanya sekedar menyapa menggunakan bahasa versi mereka yang mereka ciptakan namun tidak lazim digunakan dalam bahasa hari hari atau bahasa pergaulan.jadi bagi pendengar yang bukan gereung pasti tertawa.
Akan tetapi bagi kedua Gereung atau ikan ayam yang tidak berjodoh,karena pilihan dan selera, untuk menentukan pilihan pasangan hidup, baik remaja , hingga dewasa memilki pasangan yang bukan Gereung,
Ketika dalm interaksi sosial mereka bertemu di acara umum yang resmi atau formal, mereka akan saling "LEDEK* dengan bahasa yang Lucu, kadang terkesan porno,kasar, tetapi itu sudah hukumnya, dan itu
PANTANG MARAH, .Suka tidak suka harus terima,itu tidak memandang kasta atau status sosial.
Gereung itu akan tetap melekat didalm diri mereka hingga kakek nenek.
Jika mereka memiliki pasangan hidup yang bukan greung dalam hidup berumah tangga,pasangannya harus paham bahwa yang namanya greung baik dari pihak istri dengan greungnya atau pihak suami dengan greungnya, harus memaklumi, itulah budaya,.siap pasang badan kuping dan perasaan harus kebal ,tentu harus bersikap netral.karena dalm interaksi bahasa Hemiong adalah guyonan bersifat hiburan, pergaulan yang sangat keterlaluan dan mengganggu.
Dalm hubungan sosial budaya masyarakat, bagi yang mengetahui antara Gereung,A dan Gereung ,B adalah sejoli "dalam Hemiong"walaupun dlm suatu momen tertentu hubungan interaksi mereka tanpa ada bahasa yang di ucapkan, akan terkesan hambar ibarat sayur tanpa garam.Orang akan mulai mnduga.maka secara ,sepontan orang akan tertawa geli , karena tertawa itu hal yg membahagiakan bukan? .walaupun hanya melihat wajah mereka yang serius.
Ibarat komika yang pura pura KALEM .
Padahal sejatinya bisa ditebak dalm hati mereka penuh siasat untuk
Melontar kan bahasa umpatan yang siap memecahkan kesunyian.
Hal yg sangat lucu dan heboh kalau KEDUA BELAH PIHAK BAIK PRIA ATAU WANITA SALING SERANG DENGAN KATA KATA, tidak mau mengalah, akan terdengar seru.. karena itulah sudah dalm garis hukum adat dan budaya.
** flores dikenal dengan multi bahasa, karena hanya di batasi anak sungai atau dibatasi wilayah kecamatan, saja, bahasanya sudah berbeda-beda. Menurut sejarah, bahasa yang di pakai di flores tergolong bahasa yang sampai saat ini belum ditemukan tergolong dalam golongan bahasa mana. Namun suku Lamaholot yang tersebar di berbagai wilayah di Lembata , Adonara ,dan daratan Sekitar larantuka, Solor dan sebagian ke Alor.menggunakan Bahasa Painara..
Di Flores tidak mengunakan lapisan atau golongan bahasa. Karena multi bahasa.saat sekarang ini banyak putra-putri flores yang tidak mengrti bahasa ibu atau bahasa daerah yang dimiliki oleh salah satu orang tuanya dimana ia berasal.
Bahasa dan dialek suku flores juga biasa digunakan untuk keperluan seni dan sastra.seni dalam "Hemiong "itu adalah bagian dari pentas seni hiburan yang spontanitas tanpa sponsor hehehe,. Seni sastra ini khususnya terdapat pada masyarakat yang sudah mulai memikirkan untuk mengembangkan bahasanya dalam sair sair berupa lagu lagu daerah,dan tarian adat kolosal untuk diperkenalkan keluar. Maka dari semakin meluasnya penyebaran silang saling kawin mengawin keluar wilayah Flores Timur antara budaya yang heterogen bahkan budaya yang homogen namun pergi merantau jauh keluar dari Flores dan menetap di sana.
Tentu perlunya menggali nilai budaya dan adat istiadat daerah untuk di perkenalkan kepada generasi muda.
Perlu pendidikan dasar berbahasa ibu.
Flores Timur harus ada perubahan kurikulum pendidikan dalam membuat kamus bahasa daerah nya masing masing untuk jadi panduan belajar bagi pendidikan dasar bahasa daerah dan budaya.Di pulau jawa bahasa daerah dijadikan kurikulum bagi pendidikan sekolah dasar untuk siswa . karena dengan menerapkan perlunya pendidikan bahasa daerah.membantu mengangkat budaya dan tradisi daerah masing masing untuk diperkenalkan kepada generasi muda di era moderenisasi ini.
Secara tidak langsung inilah salah satu upaya untuk melestarikan budaya berbahasa Hemiong. benar too?
Bahasa humor tingkat dewa yang tercipta secara spontanitas.tanpa kamus dasar.
Jika diambil sebuah kesimpulan bahwa baik budaya batak dan sebagian adat Flores Timur.
** Dalam hal ini BAIK HUKUM ADAT BATAK "PARIBAN" DAN HUKUM ADAT FLORES YANG DISEBUT "GREUNG "
Pada intinya memiliki kesamaan dan perbedaan
menjodohkan anak mereka hanya untuk sekedar menjaga keutuhan harta keturunan mereka dan untuk mempertgas asal usul garis keturunan ,bibit,bebet,dan bobot mereka, agar harta dan Moralitas yg sudah diturunkan turun temurun yang mereka miliki dijaga dan terus dilestarikan.oleh garis keturunan mereka sendiri.**
**Hubungan ini juga terjadi dari hubungan" persaudaraan Ibu dan paman /om/opu/epoatau Nang Tulang *
Akan tetapi masih ada sedikit perbedaan baik Pariban dan Greung !!
*Dalam hukum adat Flores Timur,
**Yaitu adik laki laki ibu atau Kakak laki laki ibu, akan tetapi hubungan perjodohan itu berlaku pada lapisan ketiga pihak Paman. cucu dari saudaranya ibu yaitu Paman/ Epo/opu,/om Atau anak perempuan dari Putranya paman. Akan greung dengan anak laki laki saudarinya yang perempuan.
Atau sebaliknya
**Saudari perempuan memiliki anak perempuan dan melahirkan anak perempuan lagi maka ,cucu saudari perempuan akan mnjadi ikan ayam dari Putra Paman... intinya pada pihak ibu harus pada lapisan ke tiga .
dalam hal ini dipandang secara adat sah karena ibu dari sang laki laki sudah keluar suku tentu dengan mangawini cucu dari paman. Maka .akan mengembalikan gumpalan darah dari ibu kembali disatukan ke suku asal..
Sedangkan pada ,hukum dan adat Batak, putra dari paman dan putri dari tante atau dari Nang boru Sah menjadi Pariban,bisa untuk dilakukan perjodohan namun masih pada lapisan pertama..
*Dalam adat istiadat nilai budaya antara batak dan flores banyak kesamaan
Terutama soal SARUNG TENUN TRADISIONAL, dalm adat dan budaya batak di sebut "Ulos" sedangkan satung tenun tradisional flores timur disebut "Petek ada yang sebut Ago dll.
Dimana proses pembuatanya dari benang tradisional dan benang buatan pabrik.
Nilai historisnya pada setiap petek,ago,atau ulos tentu beda beda, dari corak warna, motif, dan bahan dasar pembuatan memiliki nilai tersendiri pada setiap upacara adat, sarung untuk pernikahan,sarung untuk,hadia orang yang meninggal sebagai bentuk penghormatan jenasah, sarung untuk upacara pertunangan,sarung adat untuk kedua mempelai. Sarung tenun untuk pria beda dengan sarung tenun untuk wanita,juga beda beda.baik batak maupun flores memiliki banyak sekali kesamaan, dan tentu nilai dari tiap tiap sarungnya sesuai fungsinya hanya orang dewasa yang paham akan kekentalan budaya nya masing masing yg akan paham soal ini.
Jika terus dipelajari secara detail
Bisa disimpulkan nenek moyang terdahulu mungkin mereka semua bersaudara dan terpencar ke seluruh tanah air, Sehingga kini jika di telusuri dari adat budaya bahkan bahasa yg berbeda pula.masih ditemukan budaya hampir mirip mirip dalm perlakuan dan penerapan nya.
ya ini hanya pemikirannya saya saja.tentu harus diuji penelitian sosial soal budaya flores timur dan budaya orang Batak
sekian.
Mungkin ada sedikit kekurangan
Dari pemahaman saya bisa dikoreksi.
Dan ditambahkan bagi yang lebih paham adat dan budaya Flores Timur.
Komentar
Posting Komentar