PERTAMA KALI DALAM HIDUPKU

 Sejak kecil saya hidup di desa Atakore kampung kami yang letaknya jauh dari peradaban kota letaknya  di dataran tinggi diapit oleh bukit bukit sehingga ketika  dipandang dari jauh seolah berada di lembah.

Suhu udara di soreh hari  cukup dingin , suhu udara mulai terasa sangat dingin ketika menjelang   pukul tiga sore hingga malam, kabut menyelimuti desa embun membasahi rerumputan  hanya suara belalang yang merdu ,Syarah ceria bocah bermain di lapangan, dan suara ayam jago berkokok menghiasi malam ku. Suhu udara terasa sangat dingin rasanya mau beku ,karena dingin ketika tidur rasanya dua sarung pun tak cukup, untuk menghilangkan rasa dinginku .rasa itu bisa hilang cuma hanya ada satu cara yaitu tidur bersama kakak dan mamaku, bahagia  bahagianya ketika dalam pelukan hangat mama.

 Cuaca perlahan berubah ketika menjelang pagi , menjelang siang hari suhu udara terasa panas.  desaku /Atakore,pulau Lembata Kecamatan Atadei. Kampung yang penuh dengan kehidupan masyarakat yang pas-pasan. Kehidupan masyarakat hidupnya pada umumnya berladang dengan hasil panen musiman.

Kesederhanaan itulah yang membuat saya menjadi karakter yang kuat,tulus,jujur,lugu dan sangat polos.

Kepolosan itulah menjadikan diri saya  jadi anak yang ceria dan bahagia .Mudah bersahabat,  gampang merasa iba dan murah hati.

Saya dibesarkan di keluarga yang serba pas pasan ,kekurangan,walaupun merasa kekurangan namun tidak pernah mengelu.

Beranjak  remaja saya tetaplah anak polos yang seperti apa adanya,mengenal kota pun tidak pernah,melihat Otto(Mobil),atau apa itu toko,apa gardu listrik,apa itu listrik apa itu kota saya hanya mengenal pelita dari minyak tanah dan lampu pompa (lampu gas) selain dari itu tidak pernah ada dalam pikiran saya.

Saya  sendiri berasal dari keluarga Katolik yang sangat kental,ibarat permukaan cermin yang murni tak pernah tergores apapun. 

Diusia Saya yang masih belia saya hanya memahami  kalau Tuhan Yesus adalah segalanya bagi hidupku dan Alam semesta adalah milik Tuhan Yesus dan Bunda Keyakinan itulah yang sering membuat saya bangga bahwa Bunda Maria dan Tuhan Yesus selalu menemani ku ketika dalam kesendirian,.

        UJIAN AKHIR SEKOLAH.

Lepas dari sekolah saya tidak tau kemana tidak ada bayangan,saya pahami.sekolahku sudah selesai.mungkin setiap hari saya akan bebas ke. kebun,ambil air,beri makan ternak,ikut Kaka ke ladang,itulah bayangan terindahku. Lepas, bebas dari aturan sekolah yang membosankan. Setiap habis liburan sekolah banyak tugas harus dibawah,tiang kayu,batang bambu,bawa air,buat pagar sekolah dan lain lain,Saya selalu merasakan kesulitan, mencari batang pohon,ladang sudah gersang, mencari batang tiang  kayu bawa parang,belum lagi pikul bawah pulang,pundak ini rasanya nyeri kadang lecet.  Semua perasaan itu ku  pendam bertahun tahun.  Sering  kena pukul disekolah oleh guru.  Perasaan hati kadang jengkel dan sedih.  Tetapi itulah cara didikan Guru di daerah, tegas dan mendidik.  Semua itu Ada hikmahnya.  Sekarang saya sadar bahwa  ajaran guru itu Baik adanya.

Suatu pagi di hari Senin 1990/1991

Tahun ajaran baru untuk SMP hampir mulai

Semua sahabat kecilku entah kemana.mungkin sedang mencari informasi terkait pendaftaran masuk ke Sekolah Menengah Pertama.Tak satupun terlihat, tidak sedikit pun membuat ku merasa malu dan minder saya merasa hal itu wajar saja , seperti hari hari kemarin.

       Suatu pagi

Saya masih pulas tidur dikamar. Kadete sudah bangun dan menyiapkan makanan di  dapur. Seorang misionaris tidak lain adalah Kaka kami"Firminus  Dai Koban masih tingkat Diakon saat itu,proses untuk menjadi pastor .Dalam kunjungan liburan ke kampung halaman.Sejak Subuh berdoa di makan Misionaris Almarhum Pastor Kondradus  Beker SVD yg meninggal terbunuh di kampung beberapat dekade silam .Kaka firminus kembali  dan mengutarakan niatnya untuk membawa saya ke kota agar bisa sekolah.Namun kakaku terdiam dan menghela nafas "entahlah..saya tidak tahu perasaanya.


        Pagi itu Terasa ibarat petir disiang bolong,   kakak ku galau tidak menyangka secepat itu saya dan adiku harus tinggal terpisahh , rasanya tidak sanggup.untuk memperbolehkan  adik kandung kesayangan nya  pergi.

Karen ada alasan lain,kami berdua Yatim piatu ditinggalkan oleh kedua orang tua kami.mereka sudah menghadap Allah di surga sejak kami masih belia..Tetapi mungkin Kaka frater Firminus membuka pikirannya Kaka Bernadette, kakakku hatinya bergejolak bimbang, Bebe Rapa saat kemudian akhirnya ka dete mengatakan. Stanis masih Tidur coba Kaka  tanyakan langsung padanya.


           Hari itu awan ☁️ hitam pun berlalu rasanya semua alam pun ikut berpartisipasi dalam jawabanku. Satu kepolosan yang murni menjawab "IYA".Tidak tau bagaimana gambaran nya nanti,apakah sekolah itu dekat atau jauh,saya hanya menjawab iya, karena senang Kaka Frater yang ajak,saya juga tidak paham apakah pagi itu akan terjadi derai air mata yang akan membasahi pipiku,benar benar tidak tau,ya karena bagiku tak mengerti.. pagi itu derai air mata diantara saya dan kadete seperti orang menangis i kematian ,sejak kecil saya begitu dimanja,disayang tak pernah selangkah pun pergi jauh darinya.


Hari senin pagi itu adalah awal dari perantauanku.Saya dibekali sekantong plastik bekas bungkusan sandal jepit jagung Titi hangat dan baju dan celana pendek di kresek plastik hitam tanpa sandal jepit Saya tidak paham seberapa jauh jarak tempuh , cuek dengan kaki kosong,.


Suasan pagi itu haru biru.sedih karena perpisahan kedua kakak beradik yatim piatu ini. Rasanya hatiku hancur rasanya kebahagiaan ku direbut paksa harus berpisah. Sebagai anak polos ketika kakak Firminus ,pulang liburan ke kampung adalah satu kebahagiaan tersendiri dan kebanggaan ku ,senang berada didekat nya,di suru apapun pasti mau karena senang saja.tetapi hari itu beda dan itu adalah "SAYA BERPIKIR SAYA MELAKUKAN SUATU KESALAHAN TERBESAR DALAM HIDUPKU".itu analisa ku setelahnya.Saya sungguh menyesal sepanjang jalan.rasanya mau marah, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa karena saya sangat takut jika nanti dimarahi.

Saya menyadari kalau saya sudah salah menjawab" IYA" betapa bodohnya   untuk mau pergi jauh, karena dalam hidupku tidak ada yg lebih utama dan indah dari hidupku dan kakakku bagiku itu sudah cukup. 

     Tetapi kini situasi berubah terbalik 180 derajat  rasanya hambar,tidak ada bahagia mengapa Saya harus pergi?mengapa saya harus menjauh?Ya Tuhan maafkan saya.air mataku tiada henti.  Ya Tuhan Tolong saya, sayaingin pulang saja.Saya gak butuh sekolah.Saya hanya butuh bahagia itu didekat kakaku.

Tuhan Yesus mengapa diam saja.tolong bilang Kaka frater biar saya gausah ikut.Saya ingin pulang ,mama ,bapa, Apakah kalian melihat ku saat ini,mengapa kalian diam saja diawan sana mengapa tidak turun sesaat saja bawa saya ikut terbang pulang saja ke kampung.Saya lebih bahagia dekat ka Dette.Tangisku makin menjadi perjalanan kami baru sampai di perbatasan kampung saya mulai merasa goncangan yang sangat menakutkan seperti orang yang mau mati,saya takut tidak akan pernah bertemu lagi dengan kakakku airmataku berderai saya menangi,, matahari semakin naik dan cuaca pun semakin siang dan terik menyengat.kakiku Mulai gemetar karena tidak biasa jalan sejauh itu,rasanya telapak kaki saya mulai panas rasanya seperti lecet dan pedih ,sakit,dan haus,keringat membasahi tubuh ku.

Saya tidak berani bicara saya takut kena marah makin hancur dan sedih makin sedih suaraku memecahkan kesunyian saya menangis tiada henti.Sudah hampir sejam kami pergi ,saya berbalik dan ingin melihat ke belakang,bukit bukit yang nampak.Kampungku dan kakaku hanya terbayang dalam benak saya.Pikiran say hanya ada disana,bukan dijalan ini.saat itu saya merasa sangat sedih dan tidak bahagia.

   Pukul tujuh pagi kami pergi dari rumah, tak satupun orang kampung tau kalau saya sekolah ke  kota. Kesedihanku merenggut ku dari kemerdekaan.hancur rasanya berkeping.

Sepanjang perjalanan saya hanya menangis selangkah dua langka saya tengok ke belakang.saya menangis,  saya ingin berteriak keras hati bergeolak dan menangis tiada henti karena saya takut ,ini sebenarnya mau kemana ,kakaku tolong ikut saya jemput saya biar kita pulang...pikirku dalam hati.  Kaka frater Firminus memarahiku saya makin sedih dan menangis,katanya  mengapa kamu menangis ,ayo jangan menangis kamu harus sekolah biar jadi orang cerdas.kalau kamu tidak sekolah kamu bodoh terus jangan kalah dengan teman yang lain..ayo berhenti menangis...itu nasehatnya.Bisahkah kamu membayangkan suara seorang kaka laki laki kalau bicara saat marah,rasanya jantungku berdetak kencang karena takut .

Saya balik badan dan jalan terus menangis naik bukit turun lembah..lewati perbukitan perjalanan masih jauh saya jalanya pelan.kaka firminus menuntunku...saya lelah dan berhenti jalan saya menangis lagi.

Dan kali ini teguran keras "diam gak atau saya tempeleng"saya takut dan Isak tangis ku perlahan pelan.perjalanan kami satu hari penuh.daerahku belom dijangkau otto(Mobil kendaraan roda empat. Saat itu).Jalanan masih setapak belum aspal, banyak batu besar, kerikil dan ilalang,.lelah sedih dan haus  kakiku rasanya capek dan sakit.tetapi aku tahan.aku tengok ke belakang kampung ku entah dimana sudah terhalangi oleh bukit-bukit.Saya diam,dan mataku sembab ,murung,sedih, takut, gelisah,..

Saya menangis terus hingga tiba di jalan menurun setelah kecamatan kalikasa tampak dari jauh lampu lampu perkotaan biasa dari kejauhan.kakaku menjelaskan tentang Kota Lewoleba, hatiku tak siap menerima.karena diotakku hanyalah kaka Dete. Dan ingin pulang saja. Saya kehilangan kekuatan ku.

Kalau dipikirkan detil lebih banyak IBUKU dan lebih sedikit Perannya sebagai kakakku. Rasanya anak ayam kehilangan induknya.

Tiba di Lewoleba jam sembilan malam..

Banyak hal yang membuat saya terheran-heran di sana. Ada suhu udara yang berbeda dibandingkan dikampung halaman saya.Saya merasakan kehangatan suhu udara dimalam itu,dan gerah rasanya.


RASANYA SEPERTI ANAK RUSA MASUK KE KOTA....


  Diam diam saya merasa heran.
Baru pertama kali dalam hidup ku, saya lihat kota itu lampu menyala dari batas kota,dalam hati saya heran, tetapi tidak berani bicara, hanya diam,dan masih sedih, saya dengar ada rumah besar berjalan, mengeluarkan bunyi gemuruh yang menakutkan....Rupanya itu Hahaha 
Saya berkisah bahwa ini adalah kejujuran ku yang murni

Masih jauh dibatas kota masih jalan menuruni bukit , Lewoleba saat itu dilihat dari jauh dari atas bukit cukup luasa,saya pikir sudah dekat, ternyata masih sangat jauh, sudah capek menyusuri bukit yang begitu jauh, sekarang harus berjalan kaki menurun,ngilu rasanya lututku, rasanya saya menyerah.melihat sebagian orang dewasa didepan bersemangat berjalan sambil bercanda saya pun turun bertatih tatih dan takut tersungkur jatuh kebawah karena gelap dan curam.

Malam makin terasa mencekam , suasana Makin larut ,suara binatang kecil dibalik semak dan rerumputan berbunyi,rasa dingin menyentuh perasaanku, aku mulai agak tenang, karena baru pertama kalinya melihat hal baru.

Kami masih jauh dibukit jalan menurun menuju kota.curam jalan itu.lebar jalan itu mungkin satu mistar dan setiap injakan pas satu tapak kaki, ngilu pegal kakiku,takut,soalnya gelap gulita, kalau kakiku gemetar saya berdiri dan memandang cahaya lampu kota itu dari atas bukit saya blm tau berapa lama lagi perjalanan ini kelihatannya dekat tapi kok makin jauh saja,gak sampai sampai.
Hmmmm capek sekali

Ada yang kerlap KerLiP.rupanya itu lampu pemancar/relay.saya kagum diam diam,kadang saya mendengar suara gemuru yang berlari entahlah.aku tidak tau itu apa.aku tidak berani bertanya,cuma diam.baju tipisku itu tidak mampu menahan angin malam yg dingin, saya hanya melamun tidur diperlukan kakakku kalau malam harinya.

Tetapi kali ini dan seterusnya saya tidak akan pernah dapat pelukan sayang sama kakak lagi saya pergi jauh...Hatiku mulai sedih dan .   Gundah...
Mamaaaaaa tangisan ku makin menjadi
Aku dimarahin habis habisan oleh Kakak sepupu

Jangan menangis jalan terus ini untuk masa depan kamu bodook?
Itu katanya.
Berhenti menangis atau saya tempeleng.
Perlahan lahan saya mulai diam.
Jalan itu masih jauh tiba di lembah kami lewati air sungai mengalir dibawah pohon besar.saya merasa takut.

 Rumah persinggahan kami malam itu di rumah saudara sepupunya Kaka yg bawa aku.malam itu kami istirahat disana, semua baju barang bawaan disana, malam itu saya duduk diam,.sambil merasa  heran melihat lampu neon menyala, rasanya nyaman,saya berpikir seandainya rumahku dikampung begini...tidak perlu bakar pelita minyak tanah betapa bahagianya,.

Menunggu giliran mandi.selesai mandi,,
Kami kepasar.masuk toko keluar toko, saya tidak paham kami mau ngapain,bocah kampung mana ngerti??

Saya ikut saja kemana perginya, tiba disatu toko baju ,Kaka saya nanya ini baju anak anak, dan celana ,kamu mau yg mana, saya diam saja,hati saya masih ingat Kaka,saya masih sedih,dengan diam diam Kaka ku belikan baju tiga kemeja dan celana pendek.dan tas pakaian warna coklat.yang cukup besar.

 Ya ampun....
Pulanglah kami kerumah.makan malam itu 
Rasanya enak dan nikmat, saya makan masih beras putih dan ikan,jarang sekali saya makan nasi putih,saya dikampung makan nasi dari beras jagung yg digiling kadang makan nasi beras merah dan beras hitam keunguan.beras semacam ini yang warna putih kalau dikampung biasanya yang orang tuanya guru , pegawai semacamnya tiap bulan dapat jatah beras dari pemerintah.Hari ini saya pertama kali makan Nasi dari beras putih, enaknya.Mungkin saya sudah bosan makan beras merah dan hitam jadi menemukan nasi putih beda saja rasanya.

   Malam itu saya tidur sendiri disalah satu kamar,lampu neon menyala terus sepanjang malam,semua orang dalam rumah sudah lelap tertidur.Diam diam saya amati bagaimana mungkin benda panjang ini (maksud nya lampu neon)menyalah seputih susu ini, terang sekali, saya merasa nyaman enak sekali malam itu sangat pulas, karena kecapean,
,,,Pagi pagi subuh saya dibangun kan untuk mandi kami akan pergi lagi....
Saya tidak tahu kami akan kemana lagi...

Perjalanan pagi pagi menuju dermaga Lewoleba tujuan kota kabupaten Larantuka......

Cerita bersambung.......











Komentar