imam kah saya? Katolik kah saya?

Renungan Minggu Biasa XXVI 

Imamkah Saya? Katolikkah Saya? (Mat 21:28-32)

Merenungkan bacaan Injil hari ini, saya lalu bertanya pada diriku sendiri; “Imam sejatikah saya? Katolik kah saya?” Karena tidak jarang saya hanya pandai mengajar, pandai berkotbah tetapi sulit bahkan tidak mau untuk melakukan apa yang saya ajarkan dan kotbahkan.

Saya mengajarkan cinta tanpa pamrih. Tetapi lebih banyak mencintai diri sendiri, mencintai kenyamanan sendiri. Mencintai mereka yang memberi lebih untuk saya. Saya mengajarkan umat dan meminta mereka untuk melayani dengan setia dan penuh pengorbanan. Tetapi saya tidak mau bahkan marah ketika istirahat saya diganggu oleh mereka yang meminta pelayanan.

Saya melayani masih memilih-milih dan lebih cepat melayani dan tidak pernah menolak ketika yang meminta pelayanan itu adalah orang-orang kaya. Sedangkan orang-orang sederhana, saya masih berpikir panjang mencari alasan bahkan tak jarang menolak. 

Seorang imam dan Katolik sejati adalah menghidupi contoh dan teladan baik Yesus yaitu kesetiaan, kerendahan hati, ketaatan dan pengorbanan mengikuti dan melaksanakan kehendak Bapa-Nya.

Menjadi seorang imam yang setia, rendah hati dan melayani dengan semangat pengorbanan tanpa pamrih membutuhkan juga pertobatan hidup terus menerus. Demikian juga untuk bisa mencapai kuwalitas hidup sebagai seorang Katolik sejati.

Sebagai seorang imam dan Katolik yang dibutuhkan bukan sekedar mengajari orang lain. Bukan sekedar berkotbah untuk umat. Lebih dari itu mengajari dan berkotbah untuk diri sendiri agar mampu berkata; “YA” dan melaksanakan kehendak Allah, “YA” dan bertobat.

Imamkah saya? Katolikah saya? Apakah kehadiran saya sebagai seorang imam yang juga sebagai seorang Katolik menjadi berkat sukacita hidup dalam Kristus? Sebagai seorang imam; apakah saya membawa cinta sebagai penghibur bagi umat yang saya layani? Apakah saya menghadirkan persatuan, solidaritas dan kesatuan hati dan pikiran ditengah dan bersama dengan umat? (Bdk. Flp 2:1-11)

Atau kehadiran saya sebagai seorang imam sekaligus Katolik justru menjadi pemecah belah umat, menghancurkan persekutuan iman karena diskriminasi relasi yang saya bangun?

Imamkah saya? Katolikkah saya? Kerendahan hati bahwa orang lain lebih dari saya adalah salah satu dari sekian jawaban atas kesejatiaan saya sebagai seorang imam dan juga sebagai seorang Katolik yang selalu berada pada jawaban “YA” dan bertobat.

Manila: 27 September 2020
RP. Tuan Kopong MSF.
________________&&______________________
___&&_____________&&_____&&___________
                      Komentar
Catatan harian saya.


Saya teringat ketika saya misa Minggu soreh di salah satu  gereja dijakarta,ketika saya berusia 13 tahun,saya penasaran dengan sosok siapa itu st.Yohanes Bosco.
Mengapa?saya ingat mimpi saya pagi itu.

Saya bermimpi bertemu Santo Yohanes Bosco,dalam mimpi saya diajak berjalan diatas tambang yang diikatkan diantara dua pohon besar.

Pagi itu tidak kuceritakan hal itu ke siapapun.Saya hanya berniat menceritakan kepada Romo yg saya Kagumi selama ini.Selesai misa Minggu malam saya menunggu semua orang pulang ,Romo dengan jubah putih nya masuh berdiri didepan pintu gereja .saya mendekati dan memberikan salam.

 saya minta waktu sepuluh menit untuk berbincang dengan Romo.Saat itu saya mendapat penolakan darinya.Romo itu mengatakan Tidak punya waktu untuk anak kecil.

Saat itu saya pulang saya sangat sedih.saya hanya sedih.dengan perkataan Romo itu..beberapa bulan kemudian.Tuhan menjawab Doa saya.di gereja yang sama.Ada peluncuran buku cetak edisi terbaru st.yohanes Bosco.harganya 50rb.saya beli.pengobat kekecewaan terhadap pastor gembala.kisah Yohanes Bosco saya baca hingga selesai, saya teringat ada satu bagian dimana masa kecil St . Yohanes Bosco juga mengalami kekecewaan sebagai anak anak ia meminta waktu sedikit saja kepada pastor gembala untuk berbincang,dan jawabannya sama"Romo tidak punya waktu untuk anak kecil.Yohanes berkisah kepada ibunya Margaret,rupanya ibunya tidak memihak nya.perkataan ibunya sama"Romo tidak punya waktu untuk anak kecil.,"

tau ga si???
Rasa itu....

 sakit,,sedih,kecewa,ingin menangis mengapa?
Anak kecil mengganggap Romo itu orang baik,Romo itu pendengar baik  menyenangkan kan.ketika merasa dia ditolak.kesedihan itu menyakitkan.

Dan...kata kata Yohanes Bosco kecil kepada ibunya demikian,-
"Jika suatu saat nanti saya menjadi pastor"saya akan menyisakan waktu untu anak kecil"...

St.Yohanes Bosco akirnya ketika menjadi imam ia mengumpulkan anak anak jalanan, dan gelandangan,ia menampung mereka dan memberikan cinta dan kasih sayangnya. Perlahan kenakalan merekapun berubah bahkan ada yang mengikuti jejaknya hidup membiara.Semua itu karena Cinta dan kasih seorang Pastor kepada anak anak.

Dalam kisahnya Yohanes Bosco juga membuat mujizat ketika memperbanyak buah kastanye untuk makan anak anak.
Suatu refleksi Iman untuk kita semua.

Cocok sekali dengan khotbah Romo diatas.
Pelayanan tidak memandang status,kaya &miskin, orang tua dan anak anak.semua ingin dilayani.walau sebentar saja.karena perkataan pastor menyejukkan hati.seperti Yesus hadir saat itu... Terimakasih.GBU.

Komentar